• travel

    Pemilu (3) : Ujung Dunia

    Pagi pagi buta, saya sudah menerobos kabut di Ciburial. Dingin tentunya harus ditahan. Tujuannya adalah SMA Muthahari tempat start kampanye terbuka. Untung di waktu pagi Bandung belum disergap kemacetan higga perjalanan ke tujuan bisa ditempuh dengan cepat. Di sana sudah berkumpul para pendukung Ustad Jalaluddin Rakhmat lengkap dengan atribut. Kira-kira terkumpul 14 mobil. Semuanya penuh terisi. Lokasi kampanye hari itu adalah desa Cipongkor yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. Kami masuk dari arah Rajamandala menuju power house Saguling. Dalam beberapa kesempatan ke power house Saguling untuk geotrek dan belajar di Ci Tarum Purba, saya berpikir kalau tempat itu adalah ujung dunia. Maklum lah kita kan kurang pengalaman. He he he.…

  • Berkebun

    Menabung Pohon dan Anggrek

    anggrek di changi – dok fajr muchtar Betapa irinya saya ketika menjejakan kaki di Bandara Udara Changi. Rapi, indah, hijau dan cantik. Satu hal yang paling saya sukai adalah maskot yang mereka gunakan untuk mempercantik bandara itu adalah anggrek. Anggrek berbagai jenis mulai dari yang hibrid sampai yang spesies dipajang dengang sangat rapi. Tiap sudut dan tempat-tempat yang cukup luas dibuatkan taman anggrek yang elok. Betah dibuatnya. Hal yang berbeda ketika saya masuk ke Bandara Udara Soetta atau Bandara Husein Sastranegara. Tak akan  saya tulis secara detil karena semakin membuat kening ini  berkerut dan sakit hati . Ironis. Padahal Indonesia memiliki kekayaan anggrek yang sangat luar biasa. Terdapat 4000-5000 jenis…

  • Catatan

    Pemilu (2): Kiyai PDI-P

    PDI Syariah Sesampainya di lapangan Bropid Cipongkor, sudah datang beberapa kandidat caleg dari PDI-P. Ustad Jalal langsung bergabung dengan para caleg itu dan langsung melakukan bincang-bincang.  Saya lebih memilih melihat-lihat suasana lokasi ketimbang kumpul dengan para caleg.   Setelah beberapa lama, saya lihat Ustad Jalal duduk di tempat teduh, masih dengan beberapa calon. Hari itu memang cukup panas. Saya mendekat posisi ustad dan duduk agak di belakangnya. Kebetulan tempat itu memang sejuk. Obrolan masih tentang pemilu.   Tak berapa lama, Pak TB Hasanuddin, Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga masih sebagai anggota DPR-RI, mendekati posisi Ustad Jalal. Sambil mendekat dia berkata, “Ayeuna mah PDI-P…

  • traveling

    Pemilu (1) Karena Ustad Jalal

    Saya berupaya mengingat-ingat, berapa masa pemilu yang saya ikuti. Ada kelebat-kelebat bayangan pemilu yang mampir di pikiranku. 1987, ketika SMP kelas 2 saya pernah ikut-ikutan kampanye PPP. Saat itu tentu saja belum termasuk calon pemilih. Hanya ikut-ikutan keramaian. PPP saat itu mengidendikan diri sebagai rumahnya (partai) orang islam. Saya bisa mengingat karena saat itu saya bisa naik truk keliling Yogyakarta. Pemilu tahun 1992, babar blas, saya tak ingat apapun tentang pemilu karena sibuk mengurus administari pelajar luar negeri di Qom, Iran. Tak ada kampanye dan tak ada pencoblosan. Tahun 1997, saya ikut pencoblosan tapi masih tanpa kampanye. Sampai tahun itu, hanya ada tiga partai di Indonesia, PPP, PDI dan partai…

  • Berkebun

    Wali Pohon dan Keberlangsungan Nabung Pohon

    wali pohon – dok pribadi “Tapi ternyata saat ini perlu juga gerakan selamatkan pohon. Minggu kemarin saja di komplek saya ada 5 pohon besar 10-15 tahun yg akan ditebang dg alasan untuk perluasan rumah, akarnya merusak jalan dll. Sedih rasanya sudah ditanam akhirnya harus ditebang. kawatir percepatan penebangan pohon lebih tinggi dan penambahan pohon” keluh seorang pegiat lingkungan menyikapi kondisi yang ada di sekitarnya. Seperti itulah adanya, memelihara pohon yang sudah ditanam lebih sulit daripada menanamnya. Saya sendiri mengalami hal seperti itu. dalam satu gerakan Eco Pesantren, saya dengan santri-santri Pesantren Babussalam menanam 3000 pohon di kecamatan Cimenyan. Sebulan setelah penanaman, diadakan pendataaan tanaman yang masih ada. Ternyata sebagian besar sudah hilang…

  • traveling

    Prasasti Curug Dago: Apa Yang Kau Cari Rama?

    Add caption Apa sebetulnya yang dicari oleh dua raja dari Thailand di Curug Dago? Tak ada yang bisa memastikan. Yang jelas ada dua prasasti yang menandai kedatangan mereka ke curug itu.  Prasasti pertama tertulis sebagai berikut, “Raja Rama berkunjung ke Bandung saat berumur 34 tahun, sebagai peringatan ibu kota Kerajaan Thai Ratanakosin”. Raja Thailand itu diperkirakan datang ke Curug Dago pada tahun 1902. Prasasti itu juga dihiasi dengan tapak kaki, tangan dan bintang segilima. Prasasti kedua menandai kedatangan cucu Raja Rama 27 tahun kemudian. Prasastinya tertulis, “Prajatipok Paramintara. Tahun Budha 2472 (tahun 1929). Pada tahun 1991. Kerajaan Thailand meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk memberikan pengamanan dan melestarikan prasasti tersebut. Lalu dibuatkanlah semacam…

  • Berkebun

    Tanami lahan tidur dengan jengkol

    Negeri ini memang panggung sandiwara kehidupan yang riuh. Belumlah reda masalah Centuri, muncul dugaan korupsi Hambalang yang diduga melibatkan petinggi Partai Demokrat. Bola panas liar terus menggelinding menghantam PKS. Belum beres juga sudah muncul lagi pemboman di Poso. itu baru sebagian isu panas yang saya ingat. Di panggung ini, tiba-tiba saja ada berita harga jengkol (Archidendron pauciflorum) melambung tinggi, melampaui harga daging (Kompas 04/06/2013). Kalau dulu harga jengkol melambung tinggi mungkin Bang Iwan Fals akan mengganti syair lagunya menjadi Tangisan pertamamu ditandai bbm membumbung tinggi (melambung) Maafkan kedua orangtuamu kalau tak mampu beli JENGKOL… aih ironis banget. memangnya anak akan diberi jengkol? Menurut Wamen Bayu Krisnamurthi sebagaimana dikutip dari TEMPO, lonjakan harga…