Templates by BIGtheme NET

Bertemu Tom, Raja Orangutan di Tanjung Puting

Inilah pertama kalinya saya menginjakan kaki di bumi Borneo. keinginan untuk mengunjungi pulau ini sudah sangat lama, oleh karena itu, ketika seorang teman menawari tiket promo ke Palangkaraya sekaligus mengajak berpetualang di Kalimantan, tak saya lewatkan.
Tanjung Puting sudah dipatok menjadi tujuan utama dalam perjalanan ini. Menurut Wikipedia, Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa dengan luas total 305.000 ha yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 13 Juni 1936. Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 1984 oleh Menteri Kehutanan, Tanjung Puting ditetapkan sebagai Taman Nasional yang luasnya menjadi 415.040 ha.
Perjalanan dimulai dari Teluk Kumai dengan menyewa sebuah Klotok. Mengunjungi TNTP harus menggunakan guide, dan pemandu kami adalah Fahrurrzi. Ialah yang akan mengatur perjalanan di Camp Leakey. Karena sangat mengenal hutan di TNTP, para guide bisa membantu Anda mengelilingi hutan agar kemungkinan tersesat minim adanya. di samping itu, guide juga biasanya sudah akrab dengan para orang utan atau Pongo satyrus, dalam bahasa latin.
Perjalanan menuju TNTP memakan waktu 5 jam perjalanan. Artinya, pulang-pergi memerlukan waktu 10 jam! perjalanan yang panjang. Perjalanan dengan klotok ini sangat mendebarkan, saya ingin menceritakan perjalanan saya dengan klotok ini dalam tulisan tersendiri. Tujuan kami ke sana adalah melihat Orangutan yang diberi makan dan bertemu dengan Tom, si raja Orangutan.
Kami tiba di TNTP, pusat rehabilitasi orangutan pertama di Indonesia. Ada tiga lokasi di TNTP untuk rehabilitasi Orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. dalam kesempatan ini saya mengunjungi Camp Leakey, tempat tinggal seekor raja Orangutan yang terkenal sampai ke mancanegara.
Sampai di dermaga Camp Leakey, kami berjalan ke tempat pemberian makan bagi Orangutan, berjarak hampir 1 Km. Kami berjalan agak cepat karena waktu pemberian makan sudah hampir habis. Di dekat camp pekerja, kami sudah disambut oleh Tutu, bersama anaknya yang masih kecil. Menurut guide kami, Tutu adalah ibu dari Si Tom yang jadi raja di Camp Leakey. Setelah bercengkrama sebentar dan berfoto kami melanjutkan perjalanan ke tempat pemberian makan.
Sayang, saat kami berkunjung hanya ada satu Orangutan yang sedang sibuk menghabiskan pisang. Waktu itu sedang musim buah, sehingga hanya sedikit Orangutan yang mendatangi tempat pemberian makan. Agak mengecewakan, setelah perjalanan panjang yang ditempuh dan hanya melihat seekor orang utan yang menghabiskan pisang.
Seekor burung Enggang, burung khas Kalimantan dan maskot dari propinsi Kalimantan Tengah hinggap di pucuk pohon yang tinggi. Agak susah membidiknya, karena lensa tak cukup panjang untuk menjangkaunya. Namun, kesempatan melihatnya di TNTP menjadi hiburan tambaha walaupun kami belum bertemu Tom. Kami kembali ke dermaga dengan perasaan kecewa. Tak berhasi bertemu maskot Camp Leakey.
Tiba-tiba saja, guide kami berteriak, “Ada Tom di jembatan!”
Seketika kami dialiri semangat. Namun guide kami berkata lagi, jangan terlalu bersemangat, nanti Tom akan merasa terintimidasi. “Tenang saja,” katanya.
Setelah menarik nafas panjang kami berjalan perlahan. Tapi, Tom justru bergerak ke arah kami. Badannya sangat besar, tangannya lebar dan kuat. Sepertinya cukup untuk mematahkan tulang kami. Wajahnya lebar dengan sorot mata tajam dan waspada.
Dengan agak takut kami mundur. beberapa kali Tom memandang kami. Tom kemudian berjalan menuju Camp, lalu berhenti agak lama di dekat menara. Di situlah kami mengabadikan Tom sepuas hati.
(Visited 7 times, 1 visits today)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful