review

Kidung Angklung di Tanah Persia: Dan Garis Merahnya adalah Cinta

Kidung Angklung di Tanah Persia

Buku ini lahir dari perjalanan Kafilah budaya Indonesia yang diutus untuk mengisi acara Festival Kebudayaan Indonesia yang dirangkai dalam tema 1000 Tahun Hubungan Budaya Indonesia dan Iran. Rekam jejak hubungan Indonesia dan Iran memang panjang namun itu tidak membuat Indonesia dikenal oleh orang Iran. Banyak orang iran lebih mengenal Malaysia atau Thailand ketimbang Indonesia. Orang Iran kebanyakan justru mengira bahwa Indonesia berada di benua Afrika.

Boleh kita sebut salah satu teori kedatangan Islam ke tanah air adalah teori Persia yang mengatakan bahwa para pedagang (pendakwah) Persia lah yang membawa Islam ke Nusantara. Karena keluasan dan keluwesan dakwah mereka, maka Islam dapat menjadi sebuah akar dari budaya Nusantara. Betapa kuatnya pengaruh budaya Persia di Nusantara yang hingga saat ini masih dapat kita lihat baik dalam sastra ataupun perayaan-perayaan keagamaan.

Beberapa budaya yang berakar dari tanah kaum mullah itu seperti acara Tabuk yang merupakan prosesi khas dari Syiah yang berkembang di Iran. Acara Tabuik adalah peringatan Hari Assyura atau hari berkabung atas kematian Imam Hussein bin Ali as., cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas di Padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah atau 680 Masehi. Orang jawa juga menyerap budaya ini dan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan Syura (asyura). karena bulan ini merupakan bulan kesedihan, maka banyak pantangan yang diberlakukan untuk menghormati bulan ini. salah satunya adalah pantangan melakukan hajatan pernikahan atau upacara-upacara kegembiraan pada bulan ini.
Dari sisi bahasa, banyak kata yang diserap oleh bahasa Indonesia dan juga sunda (mungkin juga dalam bahasa daerah lainnya.”. Miftah bercerita tentang kawannya yang mencoba menulis kata serapan Sunda yang berasal dari bahasa Farsi (Persia). Ia mencatat banyak pengaruh Ppersia dalam budaya dan kosa kata sunda. Misalnya kata caiuntuk air. Di Iran artinya teh. Dud itu asap dan orang sunda menyebut ‘udud’ untuk merokok. Orang sunda dan Iran menyebut kata abdas untuk wudhu. Dalam bahasa Persia, ab artinya air dan dast artinya tangan. Ada lagi astana untuk kuburan, anggur, bandar, haram jadah dan lain lain.
Dalam bukunya, Usmif menulis, “Tidak ada yang menghitung persis sejak peristiwa yang mana, tapi kelihatannya judul itu pas di telinga. Nisan-nisan bertulisakan tulisan farsi itu memang berumur 1000 tahunan, tapi itu kan dipahatkan ketika para bangsawan itu meninggal dunia. Mereka sudah hadir di Nusantara jauh sebelumnya. Tradisi Syiah dan kecintaan pada Ahlul Bait yang menyertainya dapat ditemukan di Nusantara, di mana mana”.

Ya… tradisi Cinta adalah garis merah yang saya dapatkan dari buku ini. Kecintaan pada Nabi dan Tanah Air. Ada peristiwa yang membuat saya menitikan air mata. Iran pernah dihebohkan oleh tiga orang yang mengikat janji persaudaraan.Tiga orang sahabat yang baru saja beranjak remaja berkumis tipis tanpa cambang di muka. Mereka adalah Ali Siraj, Mutaba Sa’idi dan Ahmad Mukhtari. Ketiganya berasal dari tempat yang berbeda dan Tuhan mempertemukan mereka di garis depan pertempuran. Ini bunyi surat persaudaraan mereka, “Duhai Tuhanku, tiga hamba-Mu ini, Ali, Mujtaba dan Ahmad, dengan ini bersaksi dan mengikat janji. SIapapun di antara kami bertiga beroleh derajat tinggi mati mulia maka di hari kiamat ia akan memberi syafaat pada dua saudaranya ini. Dan di hadapan-Mu dia akan memohon agar dosa keduanya dihapuskan. dalam nama-Mu Tuhan, sebaik-baiknya, awal pekerjaan. alirkan bagi kami mata air kebaikan.” kemudian surat itu ditandatangani bersama.

Siapakah yang kemudian beroleh syahadah? Siapakah yang berbahagia memberikan syafaat kepada kedua saudaranya? tak seorangpun. bukan karena tiada yang syahid melainkan karena ketiganya justru gugur bersama di medan juang Semuanya syahid sesuai impian. Tuhan antarkan mereka bergabung dengan barisan para pejuang. Para pencinta mati mulia itu tahu benar apa yang mereka cari di dunia. Seperti kisah-kisah ketulusan sahabat Nabi di berbagai medan laga. Mati bukan masalah waktu. Ia masalah cara.

Momen lain yang membuat saya menitikan air mata adalah ketika kumandang angklung mengalun merdu mengapit indonesia raya bergaung anggun dan berwibawa di Milad Tower. Miftah menggambarkannya dengan dramatis namun tak bermaksud melebih-lebihkan. Sebuah momen yang sangat mengharukan. I know i did. (untuk merasakan keharuannya, silahkan baca bukunya).

Selain momen-momen mengharukan, seperti kata pengantar dari Atase Budaya Republik Islam Iran, buku ini memperkenalkan budaya Indonesia ke masyarakan iran, ia juga memperkenalkan budaya Iran untuk para pembaca Indonesia (menurut kabar, buku ini juga sedang dalam proses terjemah ke bahasa Persia). Oleh karenanya banyak hal yang belum diketahui tentang Iran, bisa didapatkan dari buku ini.

Akhirnya Seperti kata Rumi
Cinta mengubah kepahitan menjadi manis
tanah dan tembaga menjadi emas
yang keruh menjadi jernih
si pesakitan menjadi sembuh
penjara menjadi taman
derita menjadi nikmat
kekerasan menjadi kasih sayang

Suka traveling ke mana saja, Reviewer, pencinta kuliner. bisa dihubungi lewat : Kontak : 081317655393 twitter/IG @fxmuchtar ~e-mail : fxmuchtar@gmail.com ~Facebook : facebook.com/fxmuchtar

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments