Templates by BIGtheme NET

Macau : When West meet east

Macau yang bersinar (Foto : Rizka)
Garam di laut, asam di gunung, bertemu dalam belanga. Itu kata pepatah tua. Lalu di mana timur dan barat bisa bertemu? Bisa saja di Aceh, Medan, atau agak jauh ke daratan Tiongkok di sebuah kota yang disebut Macau. 
Macau merupakan kota pertukaran budaya antara Timur dan Barat yang melintasi rentang waktu sejarah 400 tahun lebih. Dengan rentang waktu yang panjang itu, Macau diwarnai budaya eropa yang kental tapi tak menghapus budaya lokal. Timur dan Barat bertemu di Macau. Dengan keunikan semacam itu, Macau menghadirkan dirinya sebagai pusat pariwisata dunia. Dan pada tahun 2005 Macau dimasukan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO
Macau merupakan koloni Eropa tertua di Tiongkok, sejak abad ke-16. Pemerintahan Portugal menyerahkan kedaulatan terhadap Macau kepada Republik Rakyat Tiongkok pada 1999. Kini Macau merupakan sebuah daerah Administratif khusus Tiongkok.
Kuil A Ma (Doc. MGTO)
Keberadaan kota macau dimulai oleh para nelayan dari Fujian dan para petani dari Guangdong. Macau terletak di muara Pearl River di hilir Guangzhou (Canton). Karena lokasinya yang strategis untuk jalur perdagangan, orang mengenalnya dengan nama Ou Mun, atau “gerbang perdagangan”. Bahkan, jalur pelayaran Macau menjadi bagian dari Jalan Sutra di mana kapal-kapal menaikkan muatan dari sini menuju Roma.
Ketika Tiongkok mulai meredup, Guangzhou malah tambah bersinar dan menjadi tujuan perdagangan. Guangzhou menjadi makmur dari hubungan dagang dengan negara-negara Asia Tenggara. Para pedagang Portugis mulai berdatangan setelah Jorge Alvares datang di selatan Tiongkok pada tahun 1513.Perahu dagang pertama yang mencapai Ou Mun disebutkan pada awal tahun 1550-an.
Di tempat itu juga didirikan sebuah kuil untuk menghormati Dewi Laut. Kuilnya terletak di pintu masuk Inner Harbour. Penduduk setempat menyebut tempat itu A Ma Gao, “tempat A Ma”. Dari nama A Ma Gao itu, bangsa Eropa mengadaptasi namanya, yang perlahan-lahan berubah menjadi “Macau”
Mulai dari situ perkembangan kota Macau semakin pesat dan menjadi pintu masuk perdagangan antara Cina, Jepang, India dan Eropa. 
Ruins of St. Paul’s (Foto : Rizka)
Demi menancapkan pengaruhnya lebih dalam, orang-orang Eropa kemudian mengirimkan para misionaris terbaiknya dan mendirikan gereja-gereja. Tak hanya itu, untuk mendukung pengaruhnya di Macau sebuah universitas Kristen didirikan, tepat di sebelah apa yang pada masa kini disebut sebagai Ruins of St. Paul’s. Pembangunan benteng-benteng pelindung memberikan kota itu sebuah penampilan khas Eropa. Hal ini membuatnya berbeda dengan kota lainnya.
Belanda dan inggris masuk mengikis masa keemasan Portugis yang memudar di asia termasuk di Macau. Untuk lebih dari seabad British East India Company dan perusahaan lainnya membuka toko dengan menyewa rumah-rumah yang elegan seperti Casa Garden. 
Perkembangan Macau yang pesat menjadikannya sebagai tempat rekreasi bagi pedagang-pedagang Eropa. Biasanya mereka menghabiskan waktu dan uangnya di Guanzhou. Hal itu menjadikan Macau sebagai kota wisata kelas dunia.
Senado Square (Doc. MGTO)
Peralihan kekuasaan terjadi. Setelah Perang Candu Pertama berakhir pada tahun 1841, Hong Kong dikontrol oleh pemerintahan Inggris. Saat itu sebagian besar pedagang asing memilih meninggalkan Macau. Akibatnya tempat ini pun menjadi sepi dan mulai dilupakan. Namun Macau terus menggeliat dengan berbagai keunikan yang dimilikinya. Kekayaan budaya dengan keanekaragaman nuansa multikultural, bangunan bersejarahnya yang unik, dikelola dengan baik dan maksimal sehingga dalam prosesnya kembali menjadi tempat perhentian favorit bagi wisatawan mancanegara, penulis dan seniman. 
Macau semakin berbenah dan melengkapi diri. Berbagai fasilitas pendukung dibuat dan dibangun untuk menjadikannya sebagai pusat tujuan wisata dunia. Pusat-pusat belanja, hotel, resor, fasilitas olahraga, restoran dibuat sedemikian rupa sehingga membuat wajah Macau tambah cemerlang dan indah. 

mungkin karena keunikannya itu, temanku bilang fallin love Macau, dia menulis, “Bekas jajahan Portugal ini sangat bersih.. teratur…semua nama memakai bahasa portugis.. setiap taman selalu menimbulkan rasa romantis…. Walaupun terkenal sebagai tempat j**i, semua transportasi gratis semua…. Suatu saat , pasti kembali lagi… bersama kekasih hati,.. bener, saya jatuh cinta disini…”

Venesia di Macau (Doc. Rizka)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful