Templates by BIGtheme NET

Menaklukan Borneo, Sensasi Kelotokan dan Bertemu Tom

Walaupun sampai di Tanjung Kumai menjelang dini hari, Kantukku tak juga datang. Akhirnya saya keluar dari tempat menunggu dan menuju warung di depan penginapan. Malam itu, beberapa mobil datang dari pedalaman membawa barang yang akan dikirim ke Semarang. Suasana penginapan cukup hiruk pikuk. Saya dan Rizka akhirnya menghabiskan malam dengan ngobrol di warung kopi.

Menjelang subuh saya tertidur sebentar hingga dibangunkan oleh Rizka untuk melaksanakan shalat subuh. Dia sendiri sudah shalat di Mesjid Sebelah. Saya bergegas ke mesjid dan memanfaatkan kesempatan di kamar mandi untuk bersih-bersih, setelah seharian kemarin berada di jalan.

Losmen tempat menginap

Satu hal yang aneh saya dapati, air di kamar mandi itu warnanya agak kemerahan. Rasanya juga ada seperti air payau. Kata penjaga mesjid, memang begitulah kondisi air di hampir semua tempat di situ. “Tapi itu air bersih kok” katanya. Warna air seperti itu kemudian sering saya lihat di perjalanan menuju Camp Leakey Tanjung Puting.

Setelah agak siang, kami mencari penginapan yang lebih representatif. Sebuah penginapan kami dapatkan tak jauh dari tempat menginap semalam. Moda transportasi satu-satunya ke Tanjung Putting adalah kelotok. Mobil atau kendaraan lain tak bisa ke sana dan tak diizinkan. Jadi kami menyewa satu kelotok.

Kelotok, Moda transportasi satu satunya ke Tanjung Puting

Jam 9, kami menuju kelotok (Kapal) yang akan membawa kami ke Camp Leakey. kapal panjang itu dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dengan toilet duduk dan shower, 2 dek di depan dan di belakang untuk bersantai menikmati pemandangan, meja dan kursi makan dan pastinya ruangan tengah yang diberi alas karpet dan 2 buah matras untuk sekedar bersantai dan tidur-tiduran.

Sebetulnya kelotok ini juga bisa dipakai untuk menginap di kawasan Tanjung Puting, namun karena waktu yang kami miliki sangat terbatas, kami hanya menyewanya hingga malam saja. Turis-turis asing lebih banyak menghabiskan waktu di atas kelotok. Mereka bisa menginap di Tanjung Puting 2-3 malam.

Tom mengucapkan selamat datang

Jam 10, kelotok bergerak pelan memasuki area muara dan masuk menyusuri Sei Sekonyer. Pelan pelan, sinyal HP pun menghilang seiring makin dalamnya kami masuk ke kawasan Tanjung Putting. Sesekali kami bertemu dengan penduduk yang memancing dan juga bertemu dengan kelotok lainnya. Kebanyakan yang datang ke Taman Nasional Tanjung Puting kebanyakan adalah turis asing. Makanya orang-orang Kumai sendiri heran ketika kami mau ke sana.

Seperti masuk ke dunia lain, perjalanan menyusuri sungai Sekonyer ini sungguh mengasyikkan. Banyak monyet berhidung panjang yang mencari makan di pinggiran sungai. Kata Fahrurrazi yang menjadi pemandu kami, jam begitu memang waktu mereka mencari makan. Selain itu banyak juga, monyet hingga burung Enggang yang terbang ke sana kemari.

Fahrurrazi menerangkan kalau Bekantan jantan itu sangat hebat

Fahrurrazi menceritakan keunikan dua satwa itu. Bekantan jantan katanya mempunyai kemampuan seksual yang sangat tinggi. Penisnya selalu berdiri ereksi siap untuk membuahi betina-betina di kelompoknya. Makanya daging hewan ini banyak dicari karena diyakini memiliki kemampuan meningkatkan daya seksual.

Sementara untuk burung enggang, Fahrurrazi mengatakan bahwa si betina bisa tahu kalau si jantan itu setia atau tidak. Kata Ali, burung enggang selalu memberi makan betinyanya dengan biji-bijian tertentu. Jika satu saat biji-bijian yang dibawa berbeda dengan yang biasa dibawa, maka dapat dipastikan enggang jantan itu telah selingkuh. Jika sudah begitu, kiamatlah bagi si jantan. Bukan hanya diusir dan dikucilkan, bahkan enggang jantan itu akan dibunuh oleh para betinyana. Makanya yang setia saja ya.

Membelah sungai sekonyer

Hati-hati jangan terpana oleh tenangnya perairan Sei Sekonyer. Banyak buaya liar yang siap mengigit siapa saja yang tak waspada. Banyak turis yang terlena berenang di sungai Sekonyer yang sudah jadi korbannya.

Saat Perjalanan melewati Tanjung Harapan, Kami harus mampir di cekpoint untuk dicek perizinan tanda masuk tamu kemudian melewati Pondok Tanggui dan akhirnya sampai juga ke Camp Leakey.

Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) merupakan lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Terdapat tiga buah lokasi untuk rehabilitasi orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey.

Cekpoin….

Menurut Wikipedia, Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa dengan luas total 305.000 ha yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 13 Juni 1936. Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 1984 oleh Menteri Kehutanan, Tanjung Puting ditetapkan sebagai Taman Nasional yang luasnya menjadi 415.040 ha.

TNTP telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 dan merupakan Sister Park dengan Malaysia. Taman Nasional ini tak lepas dari dedikasi seorang berkebangsaan Kanada yang bernama Birute Galdikas. Birute Galdikas berasal dari Jerman, berkebangsaan Kanada. Tahun 1971, Galdikas ( 25 ) dan suaminya tiba di Tanjung Puting untuk meneliti orangutan di habitat aslinya.

Tahun 1981, setelah bercerai dengan suami nya,Galdikas menikah dengan orang Dayak asli bernama Pak Bohap. Dengan Pak Bohap beliau dikaruniai dua orang anak bernama Frederick dan Jane.

Di logde Birute Galdikas.

Galdikas, atau yang lebih dikenal dengan sebutan bu Birute oleh orang-orang setempat benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk orangutan. Beberapa penghargaan diterimanya dari pemerintah Indonesia maupun lembaga dunia. Saat ini bu Birute tidak menetap lama di Tj Puting, bolak balik antara Kanada, Amerika dan Indonesia.

Bu Birute yang sudah menjadi WNI ini menjadi ‘kesayangan’ bagi orangutan disini. Guide bercerita, tiap kali Birute datang, orangutan akan setia menunggu di pinggir sungai. Bahkan beberapa dibawa ikut naek boat untuk menuju ‘lodge’nya. Tom, orangutan yang paling besar akan selalu bikin sarang dekat dengan kamar Birute ketika beliau ada disana.”

Hati-hati berenang di dermaga Tanjung Harapan…

Sampai di dermaga Camp Leakey, kami berjalan ke tempat pemberian makan bagi Orangutan, berjarak hampir 1 Km. Kami berjalan agak cepat karena waktu pemberian makan sudah hampir habis. Di dekat camp pekerja, kami sudah disambut oleh Tutu, bersama anaknya yang masih kecil. Menurut guide kami, Tutu adalah ibu dari Si Tom yang jadi raja di Camp Leakey. Setelah bercengkrama sebentar dan berfoto kami melanjutkan perjalanan ke tempat pemberian makan.

Di Feeding point Camp Leakey orangutan yang berkumpul lebih banyak dibanding Pondok Tanggui. Mereka bergantian duduk di meja yang penuh oleh pisang, kemudian kabur membawa beberapa. Sungguh pengalaman tersendiri menyaksikan mereka berinteraksi satu sama lain tanpa kerangkeng besi dan hanya berjarak beberapa meter saja

Seekor burung Enggang, burung khas Kalimantan dan maskot dari propinsi Kalimantan Tengah hinggap di pucuk pohon yang tinggi. Agak susah membidiknya, karena lensa tak cukup panjang untuk menjangkaunya. Namun, kesempatan melihatnya di TNTP menjadi hiburan tambahan walaupun kami belum bertemu Tom. Kami kembali ke dermaga dengan perasaan kecewa. Tak berhasil bertemu maskot Camp Leakey.

Tiba-tiba saja, guide kami berteriak, “Ada Tom di jembatan!”

Seketika kami dialiri semangat. Namun guide kami berkata lagi, jangan terlalu bersemangat, nanti Tom akan merasa terintimidasi. “Tenang saja,” katanya.

Setelah menarik nafas panjang kami berjalan perlahan. Tapi, Tom justru bergerak ke arah kami. Badannya sangat besar, tangannya lebar dan kuat. Sepertinya cukup untuk mematahkan tulang kami. Wajahnya lebar dengan sorot mata tajam dan waspada.

Dengan agak takut kami mundur. Beberapa kali Tom memandang kami. Tom kemudian berjalan menuju Camp, lalu berhenti agak lama di dekat menara. Di situlah kami mengabadikan Tom sepuas hati.

Puas berfoto dan menikmati keaslian hutan nasional ini, saya melihat jam saya, 16.30 ! waktunya pulang. Biasanya setelah jam 16.00, kelotok tidak diperbolehkan pulang ke Teluk Kumai. Sungai Sekonyer yang akan menyempit di malam hari dan buaya akan pada keluar mencari mangsa. Bahaya. Nakhoda pun menyarankan untuk menginap. Kami berkeras untuk pulang. Tidak terbayangkan menginap di hutan dengan perbekalan yang tak memadai.

in Action with Tom

Ternyata benar juga perjalanan pulang sungguh lebih extrem ketimbang berangkatnya. Membelah sungai Sekonyer di malam yang gelap dan hanya mengandalkan lampu senter yang menerangi jalur sungai. Seperti orang buta berjalan di malam gelap.

Hutan gelap penuh suara binatang malam. Entah mengapa tiba-tiba saja (terasa) banyak pohon yang menutup jalan kelotok. Kelotok kami sempat menabrak pinggiran pohon karena salah jalan. Tak terbayang kalau kelotoknya sampai mogok. “tawakal saja kepada yang di atas”

Sang Nakhoda berjuang melawan gelap ditemani kernet dan guide, sama-sama mencari jalan… Sungai Sekonyer malam itu terasa sangat panjaaaang dan berliku….

Di saat tak menenangkan itu, mestilah pandai mencari cara. Kunang-kunang yang kerlap kerlip di gelap malam menjadi semacam penenang pada perjalanan itu. Bintang-bintang di langit yang cerah menampakan sinarnya. Dan senter sekali lagi menimpa mata buaya Sungai Sekonyer… iiih, saya menggeser duduk agak ke tengah.

Akhirnya jam 22.30 sampai juga di Teluk Kumai… Sulit digambarkan betama senangnya melihat lampu-lampur dermaga. Alhamdulillah, tak putus kurapalkan saat menginjak kayu dermaga.

like daihatsu

daihatsu 2d

(Visited 13 times, 1 visits today)

Comments

comments

One comment

  1. Wah.. makin penasaran untuk jelajah bumi borneo..

    salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful